(Ke)Biasa(An)

/ June 02, 2018

“If you’re nothing without this suit, then you shouldn’t have it”
Tony Stark to Peter Parker.

Beberapa waktu ini saya sangat payah. Saya butuh nulis, tapi nggak bisa.
“Nggak ada bahan.”
“Ada bahan sih, tapi gitu.”
Sampai akhirnya yang terjadi adalah nggak ada yang ditulis. 
Ada sih, tapi tulisan pemalas; semaunya dan nggak berfaedah.

Nggak jalan nggak ada bahan.
Perkara nggak jalan lalu nggak nulis. Ada kebiasaan yang nggak seharusnya dijadikan alasan. Padahal jauh sebelum kebiasaan itu ada, segalanya berjalan normal dan produktif.

Ngomong-ngomong soal biasa nggak biasa, sumbernya adalah diri kita sendiri. Kita yang memutuskan mau atau nggak mau, niat atau nggak niat, maju atau nyerah. Jadi, perkara kemudian (seolah-olah) muncul banyak masalah setelah yang biasa jadi nggak biasa, yang mesti diperbaiki ya diri sendiri.

Yang biasa, hilang.
Saat yang biasa – hilang, sebenarnya nggak ada suatu apapun yang berkurang dari kita. Kita hanya merasa kehilangan; merasa, bukan benar-benar kehilangan. Kita pernah bisa lebih baik dari (saat) ini, sebelum yang biasa – ada.

Jadi, kurang-kurangilah menyalahkan keadaan; mungkin kita yang kurang serius dan banyak alasan.

Yak, waktunya memberi petuah untuk diri sendiri.

Dear Viani,
Kalau gara-gara nggak jalan lalu nggak nulis, yang perlu dipertanyakan adalah ketertarikan dan keseriusanmu sama menulis. Dan kalau nggak terima hal itu dipertanyakan, seharusnya kamu lebih baik dari ini.

Regards,
Otakmu.


“If you’re nothing without this suit, then you shouldn’t have it”
Tony Stark to Peter Parker.

Beberapa waktu ini saya sangat payah. Saya butuh nulis, tapi nggak bisa.
“Nggak ada bahan.”
“Ada bahan sih, tapi gitu.”
Sampai akhirnya yang terjadi adalah nggak ada yang ditulis. 
Ada sih, tapi tulisan pemalas; semaunya dan nggak berfaedah.

Nggak jalan nggak ada bahan.
Perkara nggak jalan lalu nggak nulis. Ada kebiasaan yang nggak seharusnya dijadikan alasan. Padahal jauh sebelum kebiasaan itu ada, segalanya berjalan normal dan produktif.

Ngomong-ngomong soal biasa nggak biasa, sumbernya adalah diri kita sendiri. Kita yang memutuskan mau atau nggak mau, niat atau nggak niat, maju atau nyerah. Jadi, perkara kemudian (seolah-olah) muncul banyak masalah setelah yang biasa jadi nggak biasa, yang mesti diperbaiki ya diri sendiri.

Yang biasa, hilang.
Saat yang biasa – hilang, sebenarnya nggak ada suatu apapun yang berkurang dari kita. Kita hanya merasa kehilangan; merasa, bukan benar-benar kehilangan. Kita pernah bisa lebih baik dari (saat) ini, sebelum yang biasa – ada.

Jadi, kurang-kurangilah menyalahkan keadaan; mungkin kita yang kurang serius dan banyak alasan.

Yak, waktunya memberi petuah untuk diri sendiri.

Dear Viani,
Kalau gara-gara nggak jalan lalu nggak nulis, yang perlu dipertanyakan adalah ketertarikan dan keseriusanmu sama menulis. Dan kalau nggak terima hal itu dipertanyakan, seharusnya kamu lebih baik dari ini.

Regards,
Otakmu.

Continue Reading

Pernah ngerasa nggak punya tujuan nggak sih?
Ngelayang sana sini pake energi keisi penuh, lari-lari agresif ke suatu tempat yang pas didatengin ternyata fatamorgana; sampe kamu cape dan ngerasa “ini apasih?” terus akhirnya mati rasa.

I understand that maybe it’s not an interesting read. But my blog has been and will always be a copy of my mind, so it says what it needs to.

Waktu kamu merasa terlalu receh, terlalu jauh di belakang, terlalu cupu untuk melanjutkan jalan remah rotimu. Dan dengan tanpa sadar kamu memupuk seluruh ketakutanmu, keragu-raguanmu. Semakin hari semakin besar, semakin hebat, semakin tau cara membuatmu mundur perlahan, atau lari kencang, tapi tanpa tujuan.
                                                                                                                
I’m getting so lost in my own mind. And it always ends up with daydreaming; I fantasize everything, I constantly making up scenarios in my head, all the time. Well actually, in reality, I don’t really know if I have done something right or not. Or have I ever done something?

I don’t know whether or not it happens to normal human being, but sometimes I just don’t recognize myself. I starting to worry myself that I'm the only person who does this.

I have so much things in mind, but it all seems too good to be true. It doesn’t feel like something real, but crap, it’s addictive, I need it more and more every day.

I try to make it, but I get lost on my way to it. A lot of things scare me. I just drag myself down then.
I start taking a step back. Or I just run. I run because sometimes that’s the only thing I know to calm myself down. Until I feel better. And then I realize that I just lengthen the distance between my current place and ‘somewhere-something I don’t know but excites me’.
And I do regret. But then I repeat. Every time.

When you really want to tell everything, but not even a proper word comes.
I am not alright.

Lost

by on April 22, 2018
Pernah ngerasa nggak punya tujuan nggak sih? Ngelayang sana sini pake energi keisi penuh, lari-lari agresif ke suatu tempat yang pas...

My Blog List