A Short Trip to Japan: Tokyo

/ September 16, 2018

Nggak salah sih kalo Jepang jadi negara yang masuk dalam wishlist banyak orang.
Jepang; nggak terlalu jauh dari Indonesia, punya banyak hal aneh, punya culture menarik, negaranya rapih, dan kursnya cukup bersahabat. Saya agak berbeda; kalo ditanya kenapa pada akhirnya saya ke Jepang, jawabannya adalah “Dapat tiket murah!”

Super ajaib! Sebelumnya saya nggak pengen-pengen amat ke Jepang. Tapi entah kenapa, begitu masuk 2018, Jepang jadi a must to visit-nya saya di tahun ini.

"And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it."

And it did happen.
Dramanya minta ampun; mulai dari minta izin jalan yang susah banget, nggak ada partner jalan, nggak punya waktu libur, sampe harga tiket yang lumayan banget untuk tanggal yang saya pengen.
But the universe conspires in helping you…
Kayak jodoh, seketika satu per satu masalah ketemu pasangan solusinya. Dan yang paling saya nggak paham adalah AirAsia yang tepat banget ngebuka rute penerbangan baru direct Jakarta – Tokyo di awal 2018, dengan harga return flight yang sangat menyenangkan! Hayo berapa?!

AKOMODASI
Pesawat
Cuma punya waktu libur total 4 hari, dengan waktu efektif buat jalan-jalan cuma 3 hari, nggak bikin saya “yah, gimana dong” sama sekali. Kalopun cuma punya waktu 3 hari buat jalan-jalan, so what? Yuk!

AirAsia benar-benar mengerti kondisi karyawan BM ga bisa diem, yang nggak punya banyak hari libur, dan nggak punya duit banyak-banyak amat macam saya. Jadwal flightnya loh bagus banget; flight dari Jakarta menuju Tokyo di jam 23.50 - 09.20 dan Tokyo menuju Jakarta 11.30 – 17.20. Di waktu lalu, setiap hari ada penerbangan sebanyak 1x untuk Jakarta – Tokyo maupun Tokyo – Jakarta. Cakep!

Transport Bandara Narita: Tokyo Narita Access Bus
Bus dan kereta, juga taxi, adalah pilihan transport yang bisa digunakan dari Bandara Narita menuju Tokyo. Buat saya, kereta (Narita Express), apalagi Taxi, udah langsung diskip berhubung ada alternatif transport dengan harga yang jauh lebih murah: bus. Pun untuk bus, tentunya saya nggak naik Airport Lomiusine Bus yang punya fasilitas langsung turun di depan hotel tertentu, tapi bus biasa dengan tarif 1,000 yen dengan pemberhentian di Stasiun Tokyo.

Saya naik Tokyo Narita Access Bus dari Bus Stop No. 2 di Terminal 2 Kedatangan International Bandara Narita menuju Stasiun Tokyo. Tarifnya 1,000 yen aja, bayar langsung di bus tanpa perlu reservasi, jumlah busnya banyak, on time, dan busnya nyaman. Berbagai penjelasan di webnya gampang parah untuk dipahami; timetablenya, lokasi naik dan berhenti bus, cara pembayaran, semua dijelasin secara detail dan jelas di webnya, lengkap dengan video.

Begitupun saat mau pulang, saya naik Tokyo Narita Access Bus dari Bus Stop No. 7 di Stasiun Tokyo menuju Bandara Narita. Segala petunjuk yang kita butuhin tersedia lengkap banget di web Tokyo Narita Access Bus.

Shuttle bus no. 7 di Tokyo Station untuk naik bus menuju Bandara Narita

Transport selama di Jepang: Japan Train dengan Suica Card
Untuk jalan-jalan di seputaran Tokyo saya mengandalkan SUICA dan sepasang kaki. FYI, tarif taxi di Jepang itu mahal banget ya sodara-sodara. Jadi, kalo kamu punya duit berlebihan sampe luber-luber, boleh deh tuh kemanapun pake taxi. Tapi kalo buat beli baju di Hush Puppies aja mikir berkali-kali sambil nungguin diskon macam saya, pake kereta aja udah paling bener. Common knowledge banget ya kalo jaringan kereta di Jepang begitu terintegrasi sehingga memanjakan kita dalam menjangkau setiap tempat. Setiap tempat yang saya tuju rasanya begitu mudah dijangkau dengan kereta; paling jauh sekitar 800 – 900 meter jalan kaki dari stasiun.
Nggak, itu nggak jauh, sungguh. Kita aja di Indonesia yang nggak terbiasa jalan kaki. Sampe sana sih malu ya sama opa-opa yang meski rambutnya putih semua tapi tetap jalan kaki dengan tegap dan cepat.

Karena akan kemana-mana pakai kereta, saya sangat merekomendasikan untuk beli Suica Card begitu tiba di Jepang. Suica adalah kartu macam Ez Link di Singapore yang bisa dipakai untuk naik kereta apa aja dan kemana aja. Juga, bisa dipakai untuk bayar locker di stasiun dan buat belanja di beberapa convenience store.
Intinya, dengan punya SUICA, kita nggak perlu repot-repot beli tiket di stasiun setiap kali mau naik kereta.
""

Suica gampang banget dibeli di mesin-mesin bertanda SUICA/PASMO yang ada di stasiun kereta. Harga minimum pembelian SUICA adalah 1,000 yen; jadi 500 yen akan dipakai sebagai deposit kartu dan 500 yen sisanya bisa kita pakai untuk bayar tiket kereta or whatsoever. Ada beberapa pilihan harga saat kita beli SUICA: 1,000, 2,000, 3,000, dan 4,000. Intinya, 500 yen dari total harga yang kita bayar akan digunakan sebagai deposit dan sisanya bisa kita gunakan.

Jangan resah, jangan bingung; supaya lebih kebayang gimana caranya beli SUICA, cek video-video di Youtube tentang cara pembelian dan top up SUICA Card.

Image result for suica card machine
Detail penjelasan tentang SUICA bisa dibaca disini

Sebenarnya ada 2 jenis kartu yang bisa dipakai, SUICA dan PASMO. Tapi, dari beberapa sumber menyebutkan kalo pengembalian deposit dan dana yang tersimpan di SUICA nggak hanya bisa dilakukan di stasiun kereta, tapi juga di airport. Sedangkan PASMO, pengembalian deposit dan dana hanya bisa dilakukan di stasiun kereta. Karena alasan flexibilitas itulah saya pilih SUICA.

Top up SUICA bisa dilakukan disetiap mesin bertanda SUICA/PASMO yang pasti ada di stasiun kereta. Agak berbeda perlakuannya saat kita mau kembalikan SUICA card dan mengambil deposit + sisa dana yang tersimpan dalam SUICA. Pengembalian deposit dan sisa dana dilakukan di Ticket Office yang ada di stasiun. Di waktu lalu, permintaan pengembalian deposit dan dana SUICA saya lakukan di Ticket Office di Tokyo Station. Lokasinya ada di Yaesu North Exit di Tokyo Station.

Ticket Office diYaesu North Exit Tokyo Station

Udah bingung? Apa ribet?
I feel you, hahaha. Itupun terjadi sama saya saat research sebelum berangkat ke Jepang. Tapi percayalah, orang Jepang pun manusia, dan di stasiun ada ratusan petugas yang sangat ramah dan dengan senang hati membantu kamu. Information Center akan dengan mudah kamu temui di tiap stasiun. Kalo bingung atas sesuatu, tinggal masuk, tanya, dan masalah kelar begitu aja. Seriusan. Aktualnya semudah itu. Pikiran kita doang yang sering bikin sesuatu jadi ribet.

Udah mendingan? Yuk, lanjut bahas sesuatu yang lebih ribet. Ayayayayay.

Gimana caranya pake SUICA?
Semudah nempelin e-Toll card ke mesinnya.

Ticket gates for the Odakyu Line at Shinjuku Station
This picture is taken from here

Sesimple itu? NGGAK, HAHAHAHA.
Jauh sebelum kita menempelkan SUICA Card di gate masuk stasiun, kita harus make sure kalo kita berada di stasiun yang tepat. Tenang, yang ini gampang.

Ada aplikasi yang mesti banget kita punya saat main ke Jepang, Hyperdia. Hyperdia akan nunjukkin kita bisa naik apa aja, mesti ke stasiun mana, mesti ke line kereta berapa, mesti turun dimana, dan waktu tempuhnya berapa lama. Tinggal masukkin posisi kita saat ini dimana dan kita mau kemana. Hyperdia akan menunjukkan dengan jelas kita harus mulai dari stasiun mana, naik kereta di line berapa, dan di stasiun mana harus berhenti.

Hyperdia; contoh route dari Tokto Station ke Akihabara

Ada cerita menarik waktu saya pertama kali sampai di Stasiun Tokyo. Saya ngerasa PD karena Hyperdia sudah kasih petunjuk dengan jelas harus di line berapa saya naik kereta dan turun di stasiun mana.

Sesampainya saya di Stasiun Tokyo, “Lah, cari line keretanya gimana?”
Dan berjalanlah saya bolak-balik dari ujung ke ujung stasiun. “Naik keretanya darimana?”
Oke, yang pertama, begitu sampai stasiun, yang harus kamu cari adalah gate macam ini:


Tempelkan SUICA mu di gate masuk itu, palang terbuka, baru deh cari line kereta sesuai petunjuk Hyperdia. Begitu.

Tapi sebelumnya, pastikan kamu berada di stasiun yang benar ya.
Setelah turun kereta, hal pertama yang harus kamu tau adalah, harus keluar dari stasiun ini atau lanjut pindah dengan line kereta yang lain? Info ini juga ada kok di Hyperdia. Jangan bingung, jangan resah, jangan banyak alasan.
Kalau kamu harus keluar dari stasiun, bacalah baik-baik segala petunjuk yang terpampang nyata di berbagai sisi stasiun, pintu keluarnya dimana aja.
Dan kalau kamu harus lanjut dengan pindah line, baca juga baik-baik segala petunjuk untuk tau line keretanya ada di sebelah mana.
Ada hal baru tentang Jepang yang begitu saya cintai, segala sesuatu dijelaskan secara detail sehingga mudah dipahami. Itu ngebantu banget sih.

Kalau ternyata kamu nyasar di dalam stasiun, atau kartumu ditolak pas tapping SUICA di gate keluar (pasti karena kamu salah masuk/keluar stasiun), don’t worry, be happy, datangi aja loket informasi yang selalu ada di samping gate masuk/keluar stasiun. Bilang aja kalau kamu kesasar ,atau mungkin salah line, atau salah masuk stasiun; petugas disana akan sangat pengertian, sangat maklum, dan bersedia membantu kamu menuju tempat yang tepat.

Setelah 2 sampai 3 kali naik kereta, dijamin bakal langsung mahir kok. Kecuali emang sengaja bikin nyasar diri sendiri biar bisa mampir Information Center, kali aja nemu petugas kece. Ya boleh doooonggg…..

Transport selama di Jepang: Bus
Untuk tempat yang jaraknya cukup dekat, biasanya nggak bisa pake kereta tuh, yang ada adalah bus. Untuk jalan di seputaran Tokyo sih saya nggak pernah naik bus, karena kalo cuma 800 meter atau bahkan 1 kilometer, yaudah jalan kaki aja itung-itung olahraga ya nggak.

Selama di Jepang saya hanya pakai bus untuk 2 keperluan, yang pertama adalah transport dari dan ke bandara, dan yang kedua adalah transport dari Kawaguchiko menuju Tokyo. Secara umum tarif bus lebih murah dibandingkan kereta. Khusus untuk transport bus Tokyo ke Kawaguchiko dan sebaliknya bakal saya ulas secara detail di bahasan Kawaguchiko ya.
                                                                                                      
ITINERARY
Itinerary saya selalu muluk, tapi saya lebih suka begitu; nggak mati gaya kalo beberapa hal selesai lebih cepat dan punya alasan buat balik lagi kalo itinerary-nya nggak kelar. Ehe.

Selama 4 hari di Jepang, 2 hari saya alokasikan buat jalan-jalan di Tokyo, 1 hari di Fuji, dan 1 hari buat pulang ke Jakarta.
Gambarannya gini: flight kamis malam dari Jakarta ke Tokyo, hari Jumat main di Tokyo, Sabtu ke Kawaguchiko dan inap semalam, minggu pagi balik ke Tokyo dari Kawaguchiko dan langsung dilanjut jalan-jalan di Tokyo seharian, Senin siang flight balik ke Jakarta dari Tokyo.
Cukup? Dicukup-cukupin.

Jadi, selama di Tokyo kemana aja, Vi?
Ke semua tempat yang gratis.

Patung Hachiko dan Shibuya Crossing
Patung Hachiko berada persis di depan Shibuya Crossing. Dua tempat ini seolah-olah jadi cap yang melegalkan statement ‘saya sudah ke Tokyo’.

Apa yang menarik dari Hachiko sampai begitu terkenal dan dibuat patungnya di Shibuya? Baca disini ya! Dan aku loh terenyuh. Singkat cerita, Hachiko adalah anjing yang setia sama pemiliknya. Sampai setelah pemiliknya meninggal dunia pun, Hachiko masih menunggu pemiliknya pulang di Stasiun Shibuya. Kira-kira sejarahnya begitu.

Kelar foto dan duduk-duduk di depan Hachiko, nah mulai deh tuh kita ikutan ngantri nyebrang di Shibuya. Shibuya crossing adalah tempat penyebrangan pejalan kaki tersibuk di dunia.


Nyebrangnya nggak sia-sia kok. Di sisi sebrang jalan ada pusat perbelanjaan yang jualannya macem-macem, mulai dari sepatu, baju, makanan, barang-barang printilan, pokoknya semuanya. Plus, ada Starbucks yang punya ruangan di lantai 2, tepat di depan crossing, jadi kita bisa duduk sambil bengong liatin orang nyebrang.


Takeshita Street, Harajuku
Takeshita Street adalah tempat yang pas untuk cari barang lucu –yang mendekati ‘apasih’-. Harus banget mampir kesini kalo niatnya mau belanja. Lucu dan seru parah barang-barangnya.

Barang printilannya lucu parah! Dan harganya masuk akal.

Meiji Shrine/Meiji Jingu
Jalan sedikit dari Takeshita Street, ada tempat bergerbang megah, rindang penuh pohon, yang di dalamnya ada kuil, bernama Meiji Shrine; atau Meiji Jingu. Jangan tanya mana nama yang benar karena 2-2nya benar. Aku pun tak tau kenapa begitu. Tempat ini jadi sangat menarik karena tiba-tiba berasa lagi nggak di tengah kota. oh ya, jangan kesorean karena tempat ini ditutup jam 5 sore.


Tokyo Tower
Karena sudah cape pake banget, sore itu saya cuma melipir di jalanan sekitar Akabanebashi Station di dekat Tokyo Tower. Yang penting dapat secekrekan Tokyo Tower supaya ke Jepangnya sah.


Akihabara
Walalupun Akihabara adalah daerah yang terkenal sebagai pusat penjualan elektronik di Tokyo, satu-satunya alasan saya ke Akihabara adalah liat AKB48 café. Liat. Dari depan. Bukan mampir. Nanti duitnya ga cukup. Puk puk.


Kuil Sensoji

Nah ini adalah icon lain dari Tokyo selain Hachiko dan Shibuya Crossing. Kuil Sensoji adalah kuil yang terkenal di Tokyo. Disini, banyak orang yang coba-coba keberuntungan lewat “lempar fortune”. Dan kalau dapat hasil buruk, kita harus ‘gulung-gulung kertas’ –aduh apasih namanya– disini.


Shopping at Asakusa
Don Quijote dan Nakamise Shopping Street letaknya persis di samping Kuil Sensoji.
Kalo mau cari oleh-oleh khas Jepang, atau dapat titipan barang Jepang-Jepangan, belinya disini ya! Barangnya sangat variatif, harganya murah, pokoknya oleh-olehable banget.

Don Quijote adalah supermarket serba ada dengan harga yang murah. Lokasinya sebelum Kuil Sensoji. Karena Juli lalu Tokyo lagi panas banget, belanja disini sungguh surga karena adeeeem. Ati-ati kalap aja deh. Seriusaaan!



Nakamise Shopping Street letaknya persis di jalan keluar Kuil Sensoji. Tipikal barang yang dijual disini oleh-olehable banget karena ragamnya adalah pernak-pernik yang berhubungan sama Jepang. Oh ya, tidak lupa, harganya murah!


Kawaguchiko Trip
Saya selalu berusaha buat maksimalin tempat yang dituju kalo lagi trip mepet macam begini. Jadi, karena tujuan trip ini adalah Tokyo, bablasin aja dikit ya kan biar sekalian liat Gunung Fuji.

Di Kawaguchiko, mau nyebrang aja dikasih pemandangannya Gunung Fuji. Kan gawat yak.

Karena bukan cuma soal waktu, tapi juga duit yang mepet, saya memutuskan untuk menikmati Fuji dari daerah Kawaguchiko aja; nggak naik ke atas Gunung Fuji. Kawaguchiko adalah daerah di dekat Gunung Fuji yang punya banyak tempat indah dan kece banget. Jarak Tokyo ke Kawaguchiko kira-kira mirip Jakarta – Bandung; kurang lebih 2 jam, baik pakai bus atau kereta.

Kawaguchiko seriusan beneran suer super seru buat dikunjungi! Cerita detail Kawaguchiko dibahas menyusul ya.

***

Daaaan pastinya, selalu ada tempat-tempat yang masuk dalam itinerary tapi nggak kesampean untuk saya datangi:

Imperial East Garden – Di belakang Tokyo Station
Taman cantik di sekitar istana Tokyo. Lokasinya strategis sebenarnya, di belakang Tokyo Station. Masuknya pun (kabarnya) free. Tapi loooh Juli lalu Tokyo panas banget, ku tak kuasa untuk jalan kesini.

Gundam Statue - Odaiba
Karena lokasinya yang cukup jauh dan harga tiket keretanya lumayan mahal, ehe, saya mengurungkan niat untuk lihat patung gundam yang gede banget di Odaiba.

Tokyo Sky Tree – Dekat Asakusa
Nah ini nih, buah dari kemageran. Tokyo Sky Tree nggak jauh dari Asakusa sebenarnya; dan terlihat juga dari Kuil Sensoji. Jadi, karena kemageran Hanif – Hanif ya, bukan aku – nggak kejadianlah jalan ke Tokyo Sky Tree. “Dari sini juga keliatan,” kata Hanif. Baique.



Asakusa Culture Tourist Information Center – Di ujung Nakamise Shopping Street Asakusa
HARUS BANGET KESINI untuk bisa nikmatin pemandangan Kuil Sensoji & Tokyo Sky Tree dari ruang istirahat di lantai 8. Berdasarkan info yang saya dapat, masuk kesini gratis!
Check di web ini untuk dapat penjelasan lengkap seputar Asakusa Culture Tourist Information Center.

Tokyo Metropolitan Government Building - Shinjuku
“Sunset dimana-mana sama aja. Ga usahlah.” – Hanif, anak kuliah semester 3 yang suka semau-mau. Ah! Padahal super pengen kesini buat sunset-an! Mungkin di lain hari~

Hotel
Day 1 – Business Hotel Sagami Shinjuku, Tokyo
Di hari pertama, saya menginap di daerah Business Hotel Sagami di daerah Shinjuku. Kenapa Shinjuku? Karena besok paginya saya akan ke Kawaguchiko. Trasnportasi menuju Kawaguchiko paling mudah dari Shinjuku, bisa pilih naik bus atau kereta.


Kenapa Business Hotel Sagami? Karena lokasinya dekat dengan Shinjuku Station (kurang lebih 700 meter; tinggal jalan kaki) dan tarifnya paling murah di area Shinjuku; di Juli 2018 lalu saya dapat tarif sekitar Rp 900 ribu via booking.com. Tapi seriusan nggak abal-abal, proper untuk singgah dan bobo. 

Day 2 – Kawaguchiko
Bahasannya menyusul ya! But I can give you a little sneak peek with these pictures


Day 3 - Hotel Villa Fontaine Tokyo Hatchobori - Area Tokyo Station
Untuk malam terakhir di Tokyo saya memilih hotel yang lokasinya dekat dengan Tokyo Station. Kenapa? Supaya besok paginya mudah naik Tokyo Narita Access Bus dari Tokyo Station menuju Bandara Narita.

Dengan pertimbangan jarak dan harga, saya menginap di Hotel Villa Fontaine Tokyo Hatchobori. Jaraknya kurang lebih 1 KM dari Tokyo Station dan masih ok buat saya untuk ditempuh dengan jalan kaki.


Untuk tarif kamar, di Juli 2018 lalu saya dapat sekitar Rp 700 ribuan via Traveloka. Ini adalah tariff hotel paling murah dibanding hotel hari ke-1 dan hari ke-2, tapi ini yang rasanya paling mewah!

Others
Kuota Internet
Kalo dulu masih jaman beli sim card di luar negeri, sekarang ada cara yang lebih praktis, yaitu sewa pocket modem + paket datanya. Harga per orangnya jadi lebih murah karena 1 modem bisa connect ke lebih dari 1 handphone.

Di waktu lalu, saya sewa pocket modem di passpod.id. Dengan tarif sewa Rp 60 ribu/hari, saya dapat kuota internet FUP 1GB. Yang paling menyenangkan adalah aktivasinya gampang banget. Sampai di negara tujuan tinggal aktifin modem, lalu hidupkan wifi di HP, disambungkan, masukin password, kelar deh tinggal pake. Semudah itu, ga perlu set apapun dan bisa langsung aktif internetan. 



Dari pengalaman pemakaian saya, signal dan kecepatan internetnya cukup ok dimanapun, even di stasiun bawah tanah, kereta, dan daerah pegunungan fuji. Dan baterai modemnya relatif tahan seharian untuk pemakaian 2 HP.

1GB sehari buat berdua emang cukup?
Ya pake mikir juga kali makenya ya, jangan buat nonton Youtube dan ngepoin ig stories mantan mulu. Sejauh yang saya pakai, full untuk aplikasi map, Hyperdia, browsing, update-update ig, whatsapp, dsb, masih cukup kok buat ke-BM-an 2 orang dalam 1 hari.


Tempat Penyimpanan Dimana Saja: Loker
Locker tersedia di banyak tempat di stasiun. Belom waktunya check in hotel tapi pengen  jalan sana sini? Nggak masalah! Tarif locker berlaku untuk beberapa jam, kalau nggak salah 12 jam (cmiiw), dengan harga bervariasi mulai dari 300 yen sampai 1,500 yen, tergantung besarnya ukuran loker.



Setelah barang masuk dan loker dikunci, jangan ceroboh untuk buka-buka loker. Sekali buka loker, kita dianggap sudah selesai pakai loker. Kalau mau dikunci lagi setelah dibuka, kita harus masukkan sejumlah uang lagi; dianggap pemakaian baru. Jadi, jangan ceroboh.

Tips Makan
Rata-rata harga makanan proper berkisar di 600 - 800 yen. Tempat makan andalan saya selama di jepang adalah Yoshinoya dan mini market. Kalo mau hemat, beli bento (nasi dan lauk) di Seven Eleven, Family Mart, etc, itu udah paling tepat. Harganya lebih murah dibanding makanan di tempat lain, kira-kira 500 - 600 yen aja, dan pastinya udah cukup memuaskan porsi perut orang Indonesia. Tapi ya gitu, bosenannya agak ditahan aje. 


Seven Eleven terfavorit di Asakusa - tepat sebelum gerbang Kuil Sensoji

 Makan di Kedai Ramen di Akihabara

 Paket ini kira-kira 650 yen aja

***

Here I share the details of my short Japan itinerary:
Day 0: Berangkat malam hari dari Jakarta dan pagi hari sampai di Bandara Narita
Day 1: Tokyo
Shibuya area – Takeshita Street Harajuku – Meiji Shrine/Jingu – Tokyo Tower – inap di Business Hotel Sagami Shibuya
Day 2: Kawaguchiko (I’ll tell you soon!)
Day 3: Tokyo
Akihabara – Kuil Sensoji – Shopping di Asakusa – inap di Hotel Villa Fontaine Tokyo Hatchibori
Day 4: Kembali ke Jakarta melalui Bandara Narita

***

OOOOHHH KU INGIN BALIK KE JEPANG!
Segalanya kerasa mudah, aman, dan menyenangkan.
Kuatir sama toiletnya yang kata orang aneh dan bikin bingung, takut ilang karena nyasar salah kereta, atau bingung mau kemana tapi gatau gimana caranya; itu semua cuma ketakutan yang seriusan nggak perlu ada. Gih jalan, worrying gets you nowhere, jadi sikat aja.

P.S.
Hanif adalah adik saya. Teman trip satu-satunya daripada nggak boleh jalan sama Ibu.
P.P.S.
Tiket return direct flight Jakarta – Tokyo Narita yang saya dapat di Juli 2018 lalu adalah Rp 3.1 juta. Itu pun harga yang didapat akibat banyak mengulur waktu; di awal banget saya dapat Rp 2.9 juta. Lalu maju mundur mau jalan apa nggak sampai beberapa minggu kemudian jadi Rp 3.1 juta. SERIUS.
Berita sedihnya adalah tiket AirAsia jenis itu sudah nggak ada lagi sekarang; entah untuk sementara atau untuk selamanya. Menurut informasi yang saya dapat, sedang terjadi reorganisasi jaringan rute AirAsia, dimana direct flight Jakarta Tokyo kena dampaknya. Dan itu beneran, bukan gosip. Teman saya ngalamin sendiri tiket AirAsia direct Jakarta – Narita yang dibeli untuk bulan Apil/Mei 2019 dicancel oleh AirAsia karena alasan di atas.
Sedih? Yes.
Tapi banyak jalan menuju Roma, kan?
P.P.P.S.
“Kok bisa sih jalan sendiri tanpa tour? Gimana cara tau ini itunya disana?”
Yang harus diketahui adalah:
1. Itu bukan hal luar biasa, semua orang bisa lakuin. Cuma masalahnya kita banyak takut karena belum pernah coba. Sikat sikat aja. “If you never try, you’ll never know,” kata Coldplay.
2. SELALU RESEARCH SEBELUM JALAN. Googling artikel/review, kepoin Instagram seputar tempatnya, apapun. Masukin aja berbagai keywords yang pengen kamu tau, seaneh apapun, masukin aja di google search. Makin banyak baca, makin banyak tau, makin bagus.
3. MANFAATKAN GOOGLE MAPS. Hampir di seluruh pelosok dunia manapun, Google tau berapa jaraknya, lama waktu tempuhnya, bisa ditempuh pake apa aja, di sebelah masjid apa atau di pinggir pangkalan ojeg mana, GOOGLE KNOWS IT ALL.
4. Kalo udah dicari tapi mentok, percayalah selalu ada teknologi yang bisa diandalkan kapanpun, dimanapun, untuk apapun, bernama “Tanya” :')

Nggak salah sih kalo Jepang jadi negara yang masuk dalam wishlist banyak orang.
Jepang; nggak terlalu jauh dari Indonesia, punya banyak hal aneh, punya culture menarik, negaranya rapih, dan kursnya cukup bersahabat. Saya agak berbeda; kalo ditanya kenapa pada akhirnya saya ke Jepang, jawabannya adalah “Dapat tiket murah!”

Super ajaib! Sebelumnya saya nggak pengen-pengen amat ke Jepang. Tapi entah kenapa, begitu masuk 2018, Jepang jadi a must to visit-nya saya di tahun ini.

"And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it."

And it did happen.
Dramanya minta ampun; mulai dari minta izin jalan yang susah banget, nggak ada partner jalan, nggak punya waktu libur, sampe harga tiket yang lumayan banget untuk tanggal yang saya pengen.
But the universe conspires in helping you…
Kayak jodoh, seketika satu per satu masalah ketemu pasangan solusinya. Dan yang paling saya nggak paham adalah AirAsia yang tepat banget ngebuka rute penerbangan baru direct Jakarta – Tokyo di awal 2018, dengan harga return flight yang sangat menyenangkan! Hayo berapa?!

AKOMODASI
Pesawat
Cuma punya waktu libur total 4 hari, dengan waktu efektif buat jalan-jalan cuma 3 hari, nggak bikin saya “yah, gimana dong” sama sekali. Kalopun cuma punya waktu 3 hari buat jalan-jalan, so what? Yuk!

AirAsia benar-benar mengerti kondisi karyawan BM ga bisa diem, yang nggak punya banyak hari libur, dan nggak punya duit banyak-banyak amat macam saya. Jadwal flightnya loh bagus banget; flight dari Jakarta menuju Tokyo di jam 23.50 - 09.20 dan Tokyo menuju Jakarta 11.30 – 17.20. Di waktu lalu, setiap hari ada penerbangan sebanyak 1x untuk Jakarta – Tokyo maupun Tokyo – Jakarta. Cakep!

Transport Bandara Narita: Tokyo Narita Access Bus
Bus dan kereta, juga taxi, adalah pilihan transport yang bisa digunakan dari Bandara Narita menuju Tokyo. Buat saya, kereta (Narita Express), apalagi Taxi, udah langsung diskip berhubung ada alternatif transport dengan harga yang jauh lebih murah: bus. Pun untuk bus, tentunya saya nggak naik Airport Lomiusine Bus yang punya fasilitas langsung turun di depan hotel tertentu, tapi bus biasa dengan tarif 1,000 yen dengan pemberhentian di Stasiun Tokyo.

Saya naik Tokyo Narita Access Bus dari Bus Stop No. 2 di Terminal 2 Kedatangan International Bandara Narita menuju Stasiun Tokyo. Tarifnya 1,000 yen aja, bayar langsung di bus tanpa perlu reservasi, jumlah busnya banyak, on time, dan busnya nyaman. Berbagai penjelasan di webnya gampang parah untuk dipahami; timetablenya, lokasi naik dan berhenti bus, cara pembayaran, semua dijelasin secara detail dan jelas di webnya, lengkap dengan video.

Begitupun saat mau pulang, saya naik Tokyo Narita Access Bus dari Bus Stop No. 7 di Stasiun Tokyo menuju Bandara Narita. Segala petunjuk yang kita butuhin tersedia lengkap banget di web Tokyo Narita Access Bus.

Shuttle bus no. 7 di Tokyo Station untuk naik bus menuju Bandara Narita

Transport selama di Jepang: Japan Train dengan Suica Card
Untuk jalan-jalan di seputaran Tokyo saya mengandalkan SUICA dan sepasang kaki. FYI, tarif taxi di Jepang itu mahal banget ya sodara-sodara. Jadi, kalo kamu punya duit berlebihan sampe luber-luber, boleh deh tuh kemanapun pake taxi. Tapi kalo buat beli baju di Hush Puppies aja mikir berkali-kali sambil nungguin diskon macam saya, pake kereta aja udah paling bener. Common knowledge banget ya kalo jaringan kereta di Jepang begitu terintegrasi sehingga memanjakan kita dalam menjangkau setiap tempat. Setiap tempat yang saya tuju rasanya begitu mudah dijangkau dengan kereta; paling jauh sekitar 800 – 900 meter jalan kaki dari stasiun.
Nggak, itu nggak jauh, sungguh. Kita aja di Indonesia yang nggak terbiasa jalan kaki. Sampe sana sih malu ya sama opa-opa yang meski rambutnya putih semua tapi tetap jalan kaki dengan tegap dan cepat.

Karena akan kemana-mana pakai kereta, saya sangat merekomendasikan untuk beli Suica Card begitu tiba di Jepang. Suica adalah kartu macam Ez Link di Singapore yang bisa dipakai untuk naik kereta apa aja dan kemana aja. Juga, bisa dipakai untuk bayar locker di stasiun dan buat belanja di beberapa convenience store.
Intinya, dengan punya SUICA, kita nggak perlu repot-repot beli tiket di stasiun setiap kali mau naik kereta.
""

Suica gampang banget dibeli di mesin-mesin bertanda SUICA/PASMO yang ada di stasiun kereta. Harga minimum pembelian SUICA adalah 1,000 yen; jadi 500 yen akan dipakai sebagai deposit kartu dan 500 yen sisanya bisa kita pakai untuk bayar tiket kereta or whatsoever. Ada beberapa pilihan harga saat kita beli SUICA: 1,000, 2,000, 3,000, dan 4,000. Intinya, 500 yen dari total harga yang kita bayar akan digunakan sebagai deposit dan sisanya bisa kita gunakan.

Jangan resah, jangan bingung; supaya lebih kebayang gimana caranya beli SUICA, cek video-video di Youtube tentang cara pembelian dan top up SUICA Card.

Image result for suica card machine
Detail penjelasan tentang SUICA bisa dibaca disini

Sebenarnya ada 2 jenis kartu yang bisa dipakai, SUICA dan PASMO. Tapi, dari beberapa sumber menyebutkan kalo pengembalian deposit dan dana yang tersimpan di SUICA nggak hanya bisa dilakukan di stasiun kereta, tapi juga di airport. Sedangkan PASMO, pengembalian deposit dan dana hanya bisa dilakukan di stasiun kereta. Karena alasan flexibilitas itulah saya pilih SUICA.

Top up SUICA bisa dilakukan disetiap mesin bertanda SUICA/PASMO yang pasti ada di stasiun kereta. Agak berbeda perlakuannya saat kita mau kembalikan SUICA card dan mengambil deposit + sisa dana yang tersimpan dalam SUICA. Pengembalian deposit dan sisa dana dilakukan di Ticket Office yang ada di stasiun. Di waktu lalu, permintaan pengembalian deposit dan dana SUICA saya lakukan di Ticket Office di Tokyo Station. Lokasinya ada di Yaesu North Exit di Tokyo Station.

Ticket Office diYaesu North Exit Tokyo Station

Udah bingung? Apa ribet?
I feel you, hahaha. Itupun terjadi sama saya saat research sebelum berangkat ke Jepang. Tapi percayalah, orang Jepang pun manusia, dan di stasiun ada ratusan petugas yang sangat ramah dan dengan senang hati membantu kamu. Information Center akan dengan mudah kamu temui di tiap stasiun. Kalo bingung atas sesuatu, tinggal masuk, tanya, dan masalah kelar begitu aja. Seriusan. Aktualnya semudah itu. Pikiran kita doang yang sering bikin sesuatu jadi ribet.

Udah mendingan? Yuk, lanjut bahas sesuatu yang lebih ribet. Ayayayayay.

Gimana caranya pake SUICA?
Semudah nempelin e-Toll card ke mesinnya.

Ticket gates for the Odakyu Line at Shinjuku Station
This picture is taken from here

Sesimple itu? NGGAK, HAHAHAHA.
Jauh sebelum kita menempelkan SUICA Card di gate masuk stasiun, kita harus make sure kalo kita berada di stasiun yang tepat. Tenang, yang ini gampang.

Ada aplikasi yang mesti banget kita punya saat main ke Jepang, Hyperdia. Hyperdia akan nunjukkin kita bisa naik apa aja, mesti ke stasiun mana, mesti ke line kereta berapa, mesti turun dimana, dan waktu tempuhnya berapa lama. Tinggal masukkin posisi kita saat ini dimana dan kita mau kemana. Hyperdia akan menunjukkan dengan jelas kita harus mulai dari stasiun mana, naik kereta di line berapa, dan di stasiun mana harus berhenti.

Hyperdia; contoh route dari Tokto Station ke Akihabara

Ada cerita menarik waktu saya pertama kali sampai di Stasiun Tokyo. Saya ngerasa PD karena Hyperdia sudah kasih petunjuk dengan jelas harus di line berapa saya naik kereta dan turun di stasiun mana.

Sesampainya saya di Stasiun Tokyo, “Lah, cari line keretanya gimana?”
Dan berjalanlah saya bolak-balik dari ujung ke ujung stasiun. “Naik keretanya darimana?”
Oke, yang pertama, begitu sampai stasiun, yang harus kamu cari adalah gate macam ini:


Tempelkan SUICA mu di gate masuk itu, palang terbuka, baru deh cari line kereta sesuai petunjuk Hyperdia. Begitu.

Tapi sebelumnya, pastikan kamu berada di stasiun yang benar ya.
Setelah turun kereta, hal pertama yang harus kamu tau adalah, harus keluar dari stasiun ini atau lanjut pindah dengan line kereta yang lain? Info ini juga ada kok di Hyperdia. Jangan bingung, jangan resah, jangan banyak alasan.
Kalau kamu harus keluar dari stasiun, bacalah baik-baik segala petunjuk yang terpampang nyata di berbagai sisi stasiun, pintu keluarnya dimana aja.
Dan kalau kamu harus lanjut dengan pindah line, baca juga baik-baik segala petunjuk untuk tau line keretanya ada di sebelah mana.
Ada hal baru tentang Jepang yang begitu saya cintai, segala sesuatu dijelaskan secara detail sehingga mudah dipahami. Itu ngebantu banget sih.

Kalau ternyata kamu nyasar di dalam stasiun, atau kartumu ditolak pas tapping SUICA di gate keluar (pasti karena kamu salah masuk/keluar stasiun), don’t worry, be happy, datangi aja loket informasi yang selalu ada di samping gate masuk/keluar stasiun. Bilang aja kalau kamu kesasar ,atau mungkin salah line, atau salah masuk stasiun; petugas disana akan sangat pengertian, sangat maklum, dan bersedia membantu kamu menuju tempat yang tepat.

Setelah 2 sampai 3 kali naik kereta, dijamin bakal langsung mahir kok. Kecuali emang sengaja bikin nyasar diri sendiri biar bisa mampir Information Center, kali aja nemu petugas kece. Ya boleh doooonggg…..

Transport selama di Jepang: Bus
Untuk tempat yang jaraknya cukup dekat, biasanya nggak bisa pake kereta tuh, yang ada adalah bus. Untuk jalan di seputaran Tokyo sih saya nggak pernah naik bus, karena kalo cuma 800 meter atau bahkan 1 kilometer, yaudah jalan kaki aja itung-itung olahraga ya nggak.

Selama di Jepang saya hanya pakai bus untuk 2 keperluan, yang pertama adalah transport dari dan ke bandara, dan yang kedua adalah transport dari Kawaguchiko menuju Tokyo. Secara umum tarif bus lebih murah dibandingkan kereta. Khusus untuk transport bus Tokyo ke Kawaguchiko dan sebaliknya bakal saya ulas secara detail di bahasan Kawaguchiko ya.
                                                                                                      
ITINERARY
Itinerary saya selalu muluk, tapi saya lebih suka begitu; nggak mati gaya kalo beberapa hal selesai lebih cepat dan punya alasan buat balik lagi kalo itinerary-nya nggak kelar. Ehe.

Selama 4 hari di Jepang, 2 hari saya alokasikan buat jalan-jalan di Tokyo, 1 hari di Fuji, dan 1 hari buat pulang ke Jakarta.
Gambarannya gini: flight kamis malam dari Jakarta ke Tokyo, hari Jumat main di Tokyo, Sabtu ke Kawaguchiko dan inap semalam, minggu pagi balik ke Tokyo dari Kawaguchiko dan langsung dilanjut jalan-jalan di Tokyo seharian, Senin siang flight balik ke Jakarta dari Tokyo.
Cukup? Dicukup-cukupin.

Jadi, selama di Tokyo kemana aja, Vi?
Ke semua tempat yang gratis.

Patung Hachiko dan Shibuya Crossing
Patung Hachiko berada persis di depan Shibuya Crossing. Dua tempat ini seolah-olah jadi cap yang melegalkan statement ‘saya sudah ke Tokyo’.

Apa yang menarik dari Hachiko sampai begitu terkenal dan dibuat patungnya di Shibuya? Baca disini ya! Dan aku loh terenyuh. Singkat cerita, Hachiko adalah anjing yang setia sama pemiliknya. Sampai setelah pemiliknya meninggal dunia pun, Hachiko masih menunggu pemiliknya pulang di Stasiun Shibuya. Kira-kira sejarahnya begitu.

Kelar foto dan duduk-duduk di depan Hachiko, nah mulai deh tuh kita ikutan ngantri nyebrang di Shibuya. Shibuya crossing adalah tempat penyebrangan pejalan kaki tersibuk di dunia.


Nyebrangnya nggak sia-sia kok. Di sisi sebrang jalan ada pusat perbelanjaan yang jualannya macem-macem, mulai dari sepatu, baju, makanan, barang-barang printilan, pokoknya semuanya. Plus, ada Starbucks yang punya ruangan di lantai 2, tepat di depan crossing, jadi kita bisa duduk sambil bengong liatin orang nyebrang.


Takeshita Street, Harajuku
Takeshita Street adalah tempat yang pas untuk cari barang lucu –yang mendekati ‘apasih’-. Harus banget mampir kesini kalo niatnya mau belanja. Lucu dan seru parah barang-barangnya.

Barang printilannya lucu parah! Dan harganya masuk akal.

Meiji Shrine/Meiji Jingu
Jalan sedikit dari Takeshita Street, ada tempat bergerbang megah, rindang penuh pohon, yang di dalamnya ada kuil, bernama Meiji Shrine; atau Meiji Jingu. Jangan tanya mana nama yang benar karena 2-2nya benar. Aku pun tak tau kenapa begitu. Tempat ini jadi sangat menarik karena tiba-tiba berasa lagi nggak di tengah kota. oh ya, jangan kesorean karena tempat ini ditutup jam 5 sore.


Tokyo Tower
Karena sudah cape pake banget, sore itu saya cuma melipir di jalanan sekitar Akabanebashi Station di dekat Tokyo Tower. Yang penting dapat secekrekan Tokyo Tower supaya ke Jepangnya sah.


Akihabara
Walalupun Akihabara adalah daerah yang terkenal sebagai pusat penjualan elektronik di Tokyo, satu-satunya alasan saya ke Akihabara adalah liat AKB48 café. Liat. Dari depan. Bukan mampir. Nanti duitnya ga cukup. Puk puk.


Kuil Sensoji

Nah ini adalah icon lain dari Tokyo selain Hachiko dan Shibuya Crossing. Kuil Sensoji adalah kuil yang terkenal di Tokyo. Disini, banyak orang yang coba-coba keberuntungan lewat “lempar fortune”. Dan kalau dapat hasil buruk, kita harus ‘gulung-gulung kertas’ –aduh apasih namanya– disini.


Shopping at Asakusa
Don Quijote dan Nakamise Shopping Street letaknya persis di samping Kuil Sensoji.
Kalo mau cari oleh-oleh khas Jepang, atau dapat titipan barang Jepang-Jepangan, belinya disini ya! Barangnya sangat variatif, harganya murah, pokoknya oleh-olehable banget.

Don Quijote adalah supermarket serba ada dengan harga yang murah. Lokasinya sebelum Kuil Sensoji. Karena Juli lalu Tokyo lagi panas banget, belanja disini sungguh surga karena adeeeem. Ati-ati kalap aja deh. Seriusaaan!



Nakamise Shopping Street letaknya persis di jalan keluar Kuil Sensoji. Tipikal barang yang dijual disini oleh-olehable banget karena ragamnya adalah pernak-pernik yang berhubungan sama Jepang. Oh ya, tidak lupa, harganya murah!


Kawaguchiko Trip
Saya selalu berusaha buat maksimalin tempat yang dituju kalo lagi trip mepet macam begini. Jadi, karena tujuan trip ini adalah Tokyo, bablasin aja dikit ya kan biar sekalian liat Gunung Fuji.

Di Kawaguchiko, mau nyebrang aja dikasih pemandangannya Gunung Fuji. Kan gawat yak.

Karena bukan cuma soal waktu, tapi juga duit yang mepet, saya memutuskan untuk menikmati Fuji dari daerah Kawaguchiko aja; nggak naik ke atas Gunung Fuji. Kawaguchiko adalah daerah di dekat Gunung Fuji yang punya banyak tempat indah dan kece banget. Jarak Tokyo ke Kawaguchiko kira-kira mirip Jakarta – Bandung; kurang lebih 2 jam, baik pakai bus atau kereta.

Kawaguchiko seriusan beneran suer super seru buat dikunjungi! Cerita detail Kawaguchiko dibahas menyusul ya.

***

Daaaan pastinya, selalu ada tempat-tempat yang masuk dalam itinerary tapi nggak kesampean untuk saya datangi:

Imperial East Garden – Di belakang Tokyo Station
Taman cantik di sekitar istana Tokyo. Lokasinya strategis sebenarnya, di belakang Tokyo Station. Masuknya pun (kabarnya) free. Tapi loooh Juli lalu Tokyo panas banget, ku tak kuasa untuk jalan kesini.

Gundam Statue - Odaiba
Karena lokasinya yang cukup jauh dan harga tiket keretanya lumayan mahal, ehe, saya mengurungkan niat untuk lihat patung gundam yang gede banget di Odaiba.

Tokyo Sky Tree – Dekat Asakusa
Nah ini nih, buah dari kemageran. Tokyo Sky Tree nggak jauh dari Asakusa sebenarnya; dan terlihat juga dari Kuil Sensoji. Jadi, karena kemageran Hanif – Hanif ya, bukan aku – nggak kejadianlah jalan ke Tokyo Sky Tree. “Dari sini juga keliatan,” kata Hanif. Baique.



Asakusa Culture Tourist Information Center – Di ujung Nakamise Shopping Street Asakusa
HARUS BANGET KESINI untuk bisa nikmatin pemandangan Kuil Sensoji & Tokyo Sky Tree dari ruang istirahat di lantai 8. Berdasarkan info yang saya dapat, masuk kesini gratis!
Check di web ini untuk dapat penjelasan lengkap seputar Asakusa Culture Tourist Information Center.

Tokyo Metropolitan Government Building - Shinjuku
“Sunset dimana-mana sama aja. Ga usahlah.” – Hanif, anak kuliah semester 3 yang suka semau-mau. Ah! Padahal super pengen kesini buat sunset-an! Mungkin di lain hari~

Hotel
Day 1 – Business Hotel Sagami Shinjuku, Tokyo
Di hari pertama, saya menginap di daerah Business Hotel Sagami di daerah Shinjuku. Kenapa Shinjuku? Karena besok paginya saya akan ke Kawaguchiko. Trasnportasi menuju Kawaguchiko paling mudah dari Shinjuku, bisa pilih naik bus atau kereta.


Kenapa Business Hotel Sagami? Karena lokasinya dekat dengan Shinjuku Station (kurang lebih 700 meter; tinggal jalan kaki) dan tarifnya paling murah di area Shinjuku; di Juli 2018 lalu saya dapat tarif sekitar Rp 900 ribu via booking.com. Tapi seriusan nggak abal-abal, proper untuk singgah dan bobo. 

Day 2 – Kawaguchiko
Bahasannya menyusul ya! But I can give you a little sneak peek with these pictures


Day 3 - Hotel Villa Fontaine Tokyo Hatchobori - Area Tokyo Station
Untuk malam terakhir di Tokyo saya memilih hotel yang lokasinya dekat dengan Tokyo Station. Kenapa? Supaya besok paginya mudah naik Tokyo Narita Access Bus dari Tokyo Station menuju Bandara Narita.

Dengan pertimbangan jarak dan harga, saya menginap di Hotel Villa Fontaine Tokyo Hatchobori. Jaraknya kurang lebih 1 KM dari Tokyo Station dan masih ok buat saya untuk ditempuh dengan jalan kaki.


Untuk tarif kamar, di Juli 2018 lalu saya dapat sekitar Rp 700 ribuan via Traveloka. Ini adalah tariff hotel paling murah dibanding hotel hari ke-1 dan hari ke-2, tapi ini yang rasanya paling mewah!

Others
Kuota Internet
Kalo dulu masih jaman beli sim card di luar negeri, sekarang ada cara yang lebih praktis, yaitu sewa pocket modem + paket datanya. Harga per orangnya jadi lebih murah karena 1 modem bisa connect ke lebih dari 1 handphone.

Di waktu lalu, saya sewa pocket modem di passpod.id. Dengan tarif sewa Rp 60 ribu/hari, saya dapat kuota internet FUP 1GB. Yang paling menyenangkan adalah aktivasinya gampang banget. Sampai di negara tujuan tinggal aktifin modem, lalu hidupkan wifi di HP, disambungkan, masukin password, kelar deh tinggal pake. Semudah itu, ga perlu set apapun dan bisa langsung aktif internetan. 



Dari pengalaman pemakaian saya, signal dan kecepatan internetnya cukup ok dimanapun, even di stasiun bawah tanah, kereta, dan daerah pegunungan fuji. Dan baterai modemnya relatif tahan seharian untuk pemakaian 2 HP.

1GB sehari buat berdua emang cukup?
Ya pake mikir juga kali makenya ya, jangan buat nonton Youtube dan ngepoin ig stories mantan mulu. Sejauh yang saya pakai, full untuk aplikasi map, Hyperdia, browsing, update-update ig, whatsapp, dsb, masih cukup kok buat ke-BM-an 2 orang dalam 1 hari.


Tempat Penyimpanan Dimana Saja: Loker
Locker tersedia di banyak tempat di stasiun. Belom waktunya check in hotel tapi pengen  jalan sana sini? Nggak masalah! Tarif locker berlaku untuk beberapa jam, kalau nggak salah 12 jam (cmiiw), dengan harga bervariasi mulai dari 300 yen sampai 1,500 yen, tergantung besarnya ukuran loker.



Setelah barang masuk dan loker dikunci, jangan ceroboh untuk buka-buka loker. Sekali buka loker, kita dianggap sudah selesai pakai loker. Kalau mau dikunci lagi setelah dibuka, kita harus masukkan sejumlah uang lagi; dianggap pemakaian baru. Jadi, jangan ceroboh.

Tips Makan
Rata-rata harga makanan proper berkisar di 600 - 800 yen. Tempat makan andalan saya selama di jepang adalah Yoshinoya dan mini market. Kalo mau hemat, beli bento (nasi dan lauk) di Seven Eleven, Family Mart, etc, itu udah paling tepat. Harganya lebih murah dibanding makanan di tempat lain, kira-kira 500 - 600 yen aja, dan pastinya udah cukup memuaskan porsi perut orang Indonesia. Tapi ya gitu, bosenannya agak ditahan aje. 


Seven Eleven terfavorit di Asakusa - tepat sebelum gerbang Kuil Sensoji

 Makan di Kedai Ramen di Akihabara

 Paket ini kira-kira 650 yen aja

***

Here I share the details of my short Japan itinerary:
Day 0: Berangkat malam hari dari Jakarta dan pagi hari sampai di Bandara Narita
Day 1: Tokyo
Shibuya area – Takeshita Street Harajuku – Meiji Shrine/Jingu – Tokyo Tower – inap di Business Hotel Sagami Shibuya
Day 2: Kawaguchiko (I’ll tell you soon!)
Day 3: Tokyo
Akihabara – Kuil Sensoji – Shopping di Asakusa – inap di Hotel Villa Fontaine Tokyo Hatchibori
Day 4: Kembali ke Jakarta melalui Bandara Narita

***

OOOOHHH KU INGIN BALIK KE JEPANG!
Segalanya kerasa mudah, aman, dan menyenangkan.
Kuatir sama toiletnya yang kata orang aneh dan bikin bingung, takut ilang karena nyasar salah kereta, atau bingung mau kemana tapi gatau gimana caranya; itu semua cuma ketakutan yang seriusan nggak perlu ada. Gih jalan, worrying gets you nowhere, jadi sikat aja.

P.S.
Hanif adalah adik saya. Teman trip satu-satunya daripada nggak boleh jalan sama Ibu.
P.P.S.
Tiket return direct flight Jakarta – Tokyo Narita yang saya dapat di Juli 2018 lalu adalah Rp 3.1 juta. Itu pun harga yang didapat akibat banyak mengulur waktu; di awal banget saya dapat Rp 2.9 juta. Lalu maju mundur mau jalan apa nggak sampai beberapa minggu kemudian jadi Rp 3.1 juta. SERIUS.
Berita sedihnya adalah tiket AirAsia jenis itu sudah nggak ada lagi sekarang; entah untuk sementara atau untuk selamanya. Menurut informasi yang saya dapat, sedang terjadi reorganisasi jaringan rute AirAsia, dimana direct flight Jakarta Tokyo kena dampaknya. Dan itu beneran, bukan gosip. Teman saya ngalamin sendiri tiket AirAsia direct Jakarta – Narita yang dibeli untuk bulan Apil/Mei 2019 dicancel oleh AirAsia karena alasan di atas.
Sedih? Yes.
Tapi banyak jalan menuju Roma, kan?
P.P.P.S.
“Kok bisa sih jalan sendiri tanpa tour? Gimana cara tau ini itunya disana?”
Yang harus diketahui adalah:
1. Itu bukan hal luar biasa, semua orang bisa lakuin. Cuma masalahnya kita banyak takut karena belum pernah coba. Sikat sikat aja. “If you never try, you’ll never know,” kata Coldplay.
2. SELALU RESEARCH SEBELUM JALAN. Googling artikel/review, kepoin Instagram seputar tempatnya, apapun. Masukin aja berbagai keywords yang pengen kamu tau, seaneh apapun, masukin aja di google search. Makin banyak baca, makin banyak tau, makin bagus.
3. MANFAATKAN GOOGLE MAPS. Hampir di seluruh pelosok dunia manapun, Google tau berapa jaraknya, lama waktu tempuhnya, bisa ditempuh pake apa aja, di sebelah masjid apa atau di pinggir pangkalan ojeg mana, GOOGLE KNOWS IT ALL.
4. Kalo udah dicari tapi mentok, percayalah selalu ada teknologi yang bisa diandalkan kapanpun, dimanapun, untuk apapun, bernama “Tanya” :')
Continue Reading

My Blog List