Showing posts with label Old Time Storyteller. Show all posts
Showing posts with label Old Time Storyteller. Show all posts


Diana, kekasihku, pukul 01.00 dini hari duduk gagah di tembok pendek kaki lima Masjid Atta’awun. Menyendok roti tawar dalam sebuah mangkuk sekoteng setelah berkali-kali menolak pesan. Aroma jahe kuah sekoteng dengan sengaja lewat persis samping hidungnya.

Diana, Diana, kekasihku, luluh jua seketika.

 

Hari itu Diana terlalu bahagia. Diana lupa alasan kenapa selalu ragu memberi ‘iya’ pada sekoteng. Rumor beredar, roti tawar abang sekoten adalah roti tawar kadaluarsa yang dipotong dadu. Tapi lupa tinggallah lupa. Ususnya kini mulai mencerna roti tawar, bersamaan dengan jahe dalam kuah sekoteng, kacang dalam ronde, dan sedikit kotoran tangan abang sekoteng.

 

Diana, Diana, kekasihku, merajuk mencari gelato pukul 02.30 dini hari.

Lain hari, ku bawa kau keliling Indonesia. Ku pertemukan dengan langit gelap berisi jutaan bintang. Tanpa sekoteng, tanpa gelato, tanpa penyesalan.

Satu-satunya yang akan kau minta hanyalah Indomie. Dan aku.

Karena tanpa aku, kau takkan bisa membuat Indomie. Indomienya ku simpan di ranselku.

Sekarang jangan menyesal. Aku biasa di tempat biasa.


Cerita Sekoteng

by on June 24, 2021
Diana, kekasihku, pukul 01.00 dini hari duduk gagah di tembok pendek kaki lima Masjid Atta’awun. Menyendok roti tawar dalam sebuah mangkuk s...
“Sekarang aku tau gimana rasanya sepi. Waktu nggak ada lagi jari yang ngisi sela di jari ku, waktu nggak lagi kritik pedas kalo aku curhat, dan waktu nggak ada lagi suara berisik orang yang nonton sepak bola di tengah malam. Yang ada sekarang cuma suara jangkrik.. krik..krik.. atau suara kukuk burung hantu kalau malam sudah makin gelap.”
“Semua ada waktunya, Key..”
Wanita itu bangun dari duduknya. Pergi ke dapur membuat secangkir kopi seperti yang selalu dilakukannya.
“Aku nggak habis pikir, kok bisa ya Subagja sialan itu berani nekat?”
“Namanya juga manusia, Key..”
Key kembali duduk sambil ‘menyeruput’ kopi panasnya.
“Rasanya pengen banget aku mutilasi dia.. Terus aku jadiin sate..”
“Ya tinggal di mutilasi aja, Key. Toh kamu juga bisa sekalian terkenal mendadak kan?”
“Iya sich.. Tapi rugi. Keenakan kayaknya kalo cuma di mutilasi! Ga sebanding sama sakitnya aku.”
“Key.. Key.. Nggak berubah ya kamu..”
Key diam, kali ini tanpa ‘menyeruput’ kopi panasnya.
Sahabatku yang satu ini nggak ada berubahnya sama sekali. Nggak bisa terima kalo ngerasa sakit. Tapi beban nya kali ini memang berat, sedikit miris dilihatnya.
“Sini, Vi! Temenin aku!”
Key sudah berbaring di atas rumput taman belakang waktu dia teriak memanggil aku.
“Kamu tahu, Vi? Aku bener-bener kangen. Kita yang selalu berantem buat nyiapin sarapan, kita yang ribut gara-gara sabun cair dan sabun batang, yang nggak pernah bisa kompak kalo main bakiak…”
Key menarik nafas panjang. Dan berusaha melanjutkan ceritanya,
“Selalu protes kalau aku nggak bangunin dia pagi-pagi. Teriak-teriak kalau dasi nya kusut, dia yang nggak mau makan kalo suapan pertama bukan aku yang nyuapin, nggak mau tidur kalo aku belum tidur…”
Suara Key semakin pelan. Aku tahu hatinya sedang penuh gejolak. Membendung luapan sedih yang di pendamnya sendiri. Aku biarkan dia menangis.
“Baru sebulan, Vi.. Baru sebulan aku ngerasain itu.. Dan sekarang semua nya udah nggak ada lagi…”
Pilu hatiku mendengar Key. Dia berbaring disebelahku, begitu dekat aku merasakan rintihannya. Tapi sama sekali aku nggak berani menatap dia.
“Key…”
“Aku nggak bisa ngebayangin, gimana sakitnya Mas Yoyo waktu itu. Terbakar di dalam mobilnya, terjebak, nggak bisa lari dan pergi.. Dia terbakar hidup-hidup, Vi!!”
Suara Key yang awalnya pelan mulai meninggi. Suara rapuh yang dipaksakan keluar untuk meringankan jeritan hati di dalam.
“Subagja sialan! Kurang ajar! Bisa-bisanya dia ngerencain hal itu buat bunuh suamiku! Apa urusannya dia sama Mas Yoyo?! Karena aku nolak dia dan nikah sama Mas Yoyo?! Karena dia dipecat gara-gara skandal sex nya kebongkar sama Mas Yoyo dan akhirnya dia kehilangan semua jabatannya?! Gitu?!! Arrrghhh! Setan!!”
“Dan sekarang, dia tetep bisa ketawa walaupun di penjara! Kayaknya dia bahagia banget. Atau jangan-jangan dia tikus? Makanya seneng banget bisa balik ke penjara sempit nya yang bau itu..?”
Sunyi. Tak ada satu kata pun yang melanjutkan kata-kata Key barusan.
“Dia puas, Vi! Dia Puas!!”
Tiba-tiba Key menjerit. Keras! Jeritan yang mampu merobek hati tiap orang yang mendengar. Jertitan emosi di balut luka yang mendalam. Key semakin tak terkendali.
Aku peluk erat tubuh ringkih Key. Tubuhnya gemetar. Nafasnya putus-putus.
Tak ada pertahanan sama sekali. Tubuhnya mulai melemah, tertarik oleh medan pilu batinnya yang tak tertolong .
Baru sebulan lalu aku hadir dan berfoto di acara pernikahan Key. Tapi sebelum ada koma, semuanya sudah diakhiri dengan titik. 3 hari lalu, Yoyo, suami Key, meninggal. Entah bagaimana ceritanya, mobil Yoyo terbakar ketika di perjalanan. Di tengah kepanikan dan sebelum sempat menyelamatkan diri, api sudah lebih dulu berkuasa.
Hal ini jelas direncanakan, karena setelah di selidik, banyak keganjilan di tangki bensin yang bocor dan mesin mobil yang akhirnya menimbulkan percikan api. Sehari setelahnya, tanpa penyangkalan dan pembelaan berbelit-belit, Subagja bersedia di tangkap.
Aneh kan?
“Key.. Relain semuanya.. Mas Yoyo udah dapetin tempat yang terbaik..”
Setengah jam kemudia, tangis Key reda. Bermata sembab, dia sempat tersenyum.
“Di hari ketika aku masih bisa ngeliat senyumnya, nyapa dia di pagi hari, saat dia masih bisa bercanda dan ketawa sama aku.. Sekarang dia pergi.. nggak akan kembali.”
Key mulai bisa mengendalikan dirinya. Dan kali ini, seorang Keyza Nirmala yang hampir tenggelam berusaha tegar dan berdiri di atas kepingan penyangga jiwa yang retak.
“Kalau dia sedih ngeliat aku nangis, aku akan hapus tangis ku, asalkan dia bahagia. Dan sekarang, ketika dia udah di sisi-Nya, aku pengen..dia bisa tetep tersenyum bahagia disana...”



“ Bilakah kau bersedih bila ku menagis, kan ku hapus tangis mu asalkan kau bahagia. Dan bilakah kini kau tlah disisinya.. ku harap disana kau tetap selalu tersenyum ceria…”
Ran – Lagu untuk Riri

i let u go

by on December 14, 2008
“Sekarang aku tau gimana rasanya sepi. Waktu nggak ada lagi jari yang ngisi sela di jari ku, waktu nggak lagi kritik pedas kalo aku curhat, ...
“Permisi mas… permisi mbak…”
Uh. Manusia “setengah-setengah” itu mulai menyodorkan bungkus permen kosong nya selesai berkicau dengan ‘kecrekan’ kaleng yang bunyinya nggak jelas.
Banci ngamen bukan hal aneh di dalam bis kota seperti ini.
Tiba-tiba, “Kelas berapa, dek?”
“Saya Pak?” aku bertanya bingung pada seorang bapak tua yang duduk di sebelahku.
“Lha iya too.. kamu.”
“Oh. 3 SMA, Pak,” jawabku.
“Ooo.. Kamu itu kalo diliat-liat, ya mirip sama anakku di Solo. Seumuran mungkin yaa... Nduk, lha umur mu piro?”
“Umur? Memang kenapa, Pak?”
“Mbok ya di jawab, kok malah tanya lagi?”
“Ya saya kan mesti tau dulu, kenapa Bapak tanya umur saya. Gitu loh, Pak..”
“Gini loo.. lha bapak punya anak seumuran mu, tapi bapak lupa dia lahir tanggal berapa.. Lha kalo dia nanya lahir tanggal berapa, bapak bingung. Embuh, lali tanggal piro!” Jawab Bapak itu dengan logat jawa nya yang kental.
Aku hampir ngakak! Masa iya ada bapak yang nggak tau tanggal lahir anaknya? Hehehe.
“Ooo. Saya 16 tahun, Pak. Mungkin anak Bapak juga seumuran sama saya.”
“Iya ya.. mungkin juga. Jadi gini nduk, dari dulu dia selalu nanya lahir nya itu tanggal berapa. Lha tapi piye.. wong saya juga bingung dia lahir tanggal brapa.”
“Loh, terus sekolah nya gimana, Pak?”
“Dia ndak sekolah, mbantu ‘mamak’ nya kerja di pabrik kerupuk”
“Ooo…”
Siang bolong dan panas kaya gini, masalah manusia makin ada-ada aja. Aduh.. kok ada ya orang tua yang nggak tau kapan anaknya lahir??
“Dia minta tangga lahir. Piye yo?“
Wah. Bingung juga. Masa iya sih tanggal lahir bisa di bikin imitasi nya gara-gara yang asli ilang?
“Gini deh, Pak. Saya lahir 31 Desember 1991. Anak bapak kalo di liat-liat seumuran saya kan? Gampang.. Bapak pilih aja tanggal dan bulan yang bapak suka di tahun yang sama dengan tahun lahir saya.. Gimana, Pak?”
Usul yang aneh. Konyol. Tapi.. bolehlah buat bantu orang lain.
“Wah.. boleh nduk! Bagus nya tanggal berapa ya kira-kira?”
“21 April, Pak! Biar sama dengan R.A Kartini!”
Bapak itu berpikir sebentar, seperti mengingat sesuatu.
“Walah, ojo nduk! Elek tanggale. Tanggal 21 April kemarin sapi bapak ilang! Seng lianne.. yang lain..”
Hah? Aduh-aduh.. tanggal sapi ilang bisa inget, kok tanggal lahir anak bisa lupa? Sumpah. Aku tambah bingung!
“1 Januari deh, pak! Tahun Baru! Kan sekalian di rayain orang sedunia! Gimana, Pak?”
Bapak itu berpikir lagi.
“Lha wong 1 Januari itu tanggal meninggal mbah nya.. ndak sopan to yoo..”
“28 Oktober, 30 September, 10 November, atau 1 Maret? Ada yang cocok nggak, Pak?”
Semenit, dua menit, dan sudah hampir sepuluh menit bapak itu diam. Sekarang aku sudah ada di puncak nya bingung!
“Pak? Kok diem?””Bingung, nduk.””Lha bingung kenapa, Pak?”
“Ndak tau. Bingung mikirin Tri..”
“Tri? Siapa itu, Pak?”
“Yaa itu… Nama anak saya.. Tri Agustina namanya.”
Tri Agustina? Apa mungkin 3 Agustus?
“Dulu yang kasih nama itu bidan yang ngebantu lahirnya dia. Tapi ibu bidan nya itu sudah meninggal.. ngono..”
“Walah bapak... Bapak tau ndak to artine Tri Agustina??” Aku mengikuti logat jawa si Bapak.
“Opo to artine? Apa artinya?””Tri Agustina itu 3 Agustus , Bapaaakk…. Tri itu diambil dari Bahasa Inggris, artinya tiga. Agustina biasanya diambil dari nama bulan, Agustus. Ngono…”
“Oalah, nduk… ngono to? Jadi anakku itu lahirnya 3 Agustus?!”
“Kemungkinan besar sih gitu..”
“Oalah…..”
Bapak itu nggak berhenti bilang ‘oalaaahhh…’ sambil senyum sumringah. Seneng juga liatnya. Seneng bisa bantu mecahin masalah orang lain, walaupun masalahnya sedikit konyol.
Masalah emang nggak bisa di duga bentuk nya. Makin tua umur bumi, mungkin masalah yang jauh lebih bikin kita ngerutin dahi, bakal muncul lebih banyak. Hehe.
“Pak, saya turun duluan ya. Semoga anak Bapak seneng sama tanggal 3 Agustus,” kataku sambil senyum
“Iyoo, nduk.. matur nuwun yoo.. makasih banget udah bantu Bapak.. Yo wes.. sing ati-ati..”
Siang yang unik! Kapan lagi ya bisa dapet pengalaman siang yang kaya gini…? J

Obrolan Bis

by on December 02, 2008
“Permisi mas… permisi mbak…” Uh. Manusia “setengah-setengah” itu mulai menyodorkan bungkus permen kosong nya selesai berkicau dengan ‘kecre...
Kau meninabobokan aku. Membawaku hanyut dalam untaian mimpi penuh warna. Kau ceritakan aku euforia indah kehidupan. Membawa ku dalam tiap kisahmu, hingga aku menjadi alur ceritamu. Dan aku menikmati itu. Menikmati itu semua dan berharap satu detakan waktu takkan membangunkanku.
“Aku kangen mama..” Lidahku berucap tanpa perintah. Dan sepakat, air mata ini menetes pelan dan mengalir di pipiku.
Mama. Sosok wanita yang harusnya paling aku sayang, yang harusnya ada dalam pergantian waktu ku beranjak dewasa, yang seharusnya mengurusku, kini tak tahu ada dimana. Papa mama sering bertengkar. Dan intensitas bertengkar mereka meningkat sejak papa mulai bangkrut. Mereka bertengkar, berteriak, saling menarik otot, berpersepsi demi alibi, seperti tak akan pernah terucap kata sepakat. Esok harinya mama pergi entah kemana, tak ada kabar hingga hari ini.
Mereka terlalu fasih mengucap kata ‘sayang’, sampai-sampai tak ada makna berarti lagi yang dapat ku tangkap dari rangkaian huruf-huruf itu. Bagiku sekarang, kata ‘sayang’ hanyalah basa-basi, kata tanpa isi yang tak berbobot. Ah..aku benci mengingatnya.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 01.30 pagi. Hingga detik ini, mataku belum mau menutup, seakan ada batang korek mengganjal dan tak bisa di lepas.
Ku buka selimutku, bangun dari tempat tidur, dan buka pintu. Sepi. Rumah ini memang selalu sepi. Aku berjalan menuju teras.
Baru sampai di ruang tamu, mataku lekat menatap seseorang tertidur pulas di kursi kayu tua sebelah pojok ruang tamu. Lelaki itu tak asing bagiku. Hasil perasan keringatnya yang selama ini membesarkan aku
Sebelumnya aku tak pernah selekat ini menatapnya. Aku tak pernah peduli, tak mau peduli, menjadi brutal dan tak terkendali semenjak keluarga ini pecah.
Aku segera berlalu dari tempat itu. Duduk di teras dan bongkar semua isi hati. Hati ku menghentak dan teriak. Hati ini hampa, lenyap, dan mulai binasa. Aku mencoba menariknya, tapi terhembus lalu terlepas. Hati ini sulit ku kendalikan.
Lirih gerutu ini, “Mereka anggap apa aku?”
Mungkin aku terlalu cengeng, tak siap dengan kuatnya ombak yang selama setengah tahun ini menerjang dan mengikis ku sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa saat ini hanya tinggal kepingan kecil yang rapuh dan hampir roboh.
Terakhir, sebelum mama pergi, aku berteriak ‘aku benci mama!’dan yang ku tahu mama menangis. Dalam diam aku tak peduli lagi. Mama egois! Sebelas – dua belas dengan papa. Mama pergi, dan saat itu kulihat sebuah sedan mewah menantinya di depan rumah.
Semenjak kejadian itu, aku dan papa sama sekali tak pernah membicarakan mama. Kami sama-sama tahu, itu hanya akan membuka kembali luka yang susah payah kami kubur.
Angin malam mulai masuk ke tubuhku. Menyelinap lewat celah pori dan akhirnya dingin ini menusuk tulangku.
Di saksikan oleh semesta malam, aku menangis. Aku lepaskan tangisan ku. Satu hal yang baru kusadari, aku tak bisa membenci mama ataupun papa. Seringkih apapun jiwa ku saat ini, aku tetap sayang mereka. Dan saat ini, ku rasakan benar bisikan lirih yang ingin di dengar, rintihan hati yang tertunduk pilu entah karena malu atau rindu, aku kangen mama…
Dingin semakin menjadi. Aku putuskan kembali ke kamar. Sejenak aku mematung di depan papa yang tertidur pulas di kursi kayu itu. Aku cium kening papa. Dan gejolak itu kembali muncul. Linangan Air mata ini mulai mengalir. Sebelum semakin menjadi dan tak terbendung, aku beranjak dari diam ku.
Sengaja matikan lampu kamar, tutup pintu, dan rebahkan tubuh di atas kasur kapuk.
Hatiku mulai tenang, gejolak itu mulai berlalu, lepas, dan tak lagi penuh emosi. Malam ini aku ingin mama disini. Aku sungguh kangen mama.
Sisa air mata tadi belum selesai menetes. Setetes..setetes..dan setetes lagi. Aku mencoba redam semua nya. Pejamkan mata dan berharap semua akan membaik.
Ketika mata ini terpejam, aku merasa dekat dengan mama..
Aku terlelap dan semakin dapat rasakan semua nya.
Kau meninabobokan aku. Membawaku hanyut dalam untaian mimpi penuh warna. Kau ceritakan aku euforia indah kehidupan. Membawa ku dalam tiap kisahmu, hingga aku menjadi alur ceritamu. Dan aku menikmati itu. Menikmati itu semua dan berharap satu detakan waktu takkan membangunkanku.

Kangen

by on November 23, 2008
Kau meninabobokan aku. Membawaku hanyut dalam untaian mimpi penuh warna. Kau ceritakan aku euforia indah kehidupan. Membawa ku dalam tiap ki...
Aku menemukan secuil sudut pandang berbeda dari kehidupan kota ini. Aku berjalan-jalan sendiri, menikmati pemandangan malam jalanan kota yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Sekarang, tepat pukul 00.30. Diluar sini semuanya berbeda. Inilah kehidupan yang sesungguhnya. Keras, penuh ancaman, puncak bahaya jika tak waspada.
Aku berhenti dan duduk di sebuah trotoar pinggir jalan. Aku amati semua yang terjadi di depan mataku. Sekelompok anak muda yang mengemudikan mobil sambil mabuk. Mobil itu jalan semaunya, seperti tak punya arah. Ku tebak, mereka pasti baru saja pulang berjoged di suatu tempat yang berisik dan lampunya kedap-kedip, mereka bilang itu clubbing. Ah, orang-orang tak jelas. Membuang uang hanya untuk berjoget dan menjadi tak waras setelah minum minuman keras. Apa untungnya?
Ku alihkan pandangan. Bola mataku diam terpaku melihat sebuah warung kopi kecil di seberang jalan sana. Aku tertarik. Mereka tampak serius dengan kartu gaple nya masing-masing sambil sesekali menyeruput kopi kental yang pastinya sudah tidak panas lagi. Setelah kartu di lempar, ada yang tertawa keras, dan ada juga yang menekuk wajahnya. Klise. Sebuah pemandangan yang mudah di jumpai di Indonesia setiap saat. Mereka hanya bergantung pada dewi fortuna nya. Untung jika nasib sedang baik, dan rugi terus-menerus jika nasib buruk tak kunjung mau pergi meninggalkan. Itulah dinamika hidup. Kadang, kita harus berani bertaruh, walaupun hasilnya tak pasti. Hidup adalah tantangan yang harus kita hadapi, walaupun kadang hanya dengan modal nekat.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Berjalan mengikuti kemana kaki ingin pergi. Aku menikmati tiap sudut kota ini. Bangunan-bangunan indah yang bernilai seni tinggi berhiaskan cahaya lampu warna-warni seakan lebih hidup dan menceritakan kisahnya masing-masing. Kota ini semakin indah jika malam. Lampu-lampu hias kota yang berkedap-kedip warna-warni menghasilkan sebuah panorama malam yang indah. Dan suasana malam ini semakin dipercantik oleh sang dewi malam yang menampilkan segala pesonanya, bulan bundar itu tampak lebih terang dari biasanya. Aku menikmati semua ini. Benar-benar menikmati.
Aku berjalan ke arah pertokoan. Agak sepi disini. Tak terlalu banyak lampu.
Langkah ku mendadak berhenti ketika melihat banyak orang yang berlari sambil berteriak “maling!!!!”. Rupanya malam ini adalah malam yang buruk untuk si maling. Hanya ada dua kemungkinan untuknya, lolos dan bisa makan, atau tertangkap, babak belur, dan menikmati hunian gratis di penjara.
Aku tak terlalu ambil pusing dengan hal seperti itu. Itu hal yang biasa terjadi di kota besar. Aku tak mau ikut campur.
Kaki ini kembali membawaku berjalan. Menikmati seni kehidupan malam yang indah dan tak ada aturan.
Belum jauh berjalan, aku melihat sebuah pemandangan yang miris.Di depan sana, puluhan gelandangan tidur nyenyak di emperan toko. Mereka banyak sekali. Tidur berdesakan. Hanya beralas koran dan selimut karung. Aku lebih mendekat. Sambil berjalan, aku amati wajah mereka. Tergambar jelas wajah-wajah kelelahan. Mereka berjuang untuk bertahan hidup, tak mau kalah dengan kerasnya cambukan kehidupan. Mereka adalah penantang kehidupan, mengarungi lautan hidup dengan jutaan kemungkinan, selamat atau tenggelam karena tak kuat menahan badai. Jujur, aku kagum. Tak banyak orang yang bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Tapi aku percaya, Tuhan tidak diam. Tuhan punya rencana lain untuk mereka yang tak dapat di jangkau logika manusia.
Sisi kehidupan malam tak selalu buruk untuk di ungkap. Kepingan mozaik hidup yang tak selalu bisa di kumpulkan ketika siang, dimana orang sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa sempat mengambil makna berharga dari sebuah keadaan. Malam ini indah. Terasa sangat indah untukku. Di bawah langit malam, aku belajar tentang hidup. Tak selalu menyenangkan. Ada bahagia, sedih, takut, dan semuanya. Hidup adalah misteri. Tak bisa di duga-duga. Kita hanya harus banyak belajar dan lebih siap untuk menyingkap makna yang tak pernah tersurat, tapi tersirat.
Malam ini indah. Benar-benar indah. Dan aku menikmatinya.

Malam di Kota

by on November 14, 2008
Aku menemukan secuil sudut pandang berbeda dari kehidupan kota ini. Aku berjalan-jalan sendiri, menikmati pemandangan malam jalanan kota yan...

My Blog List