Kalo udah bingung banget, pura-pura bodoh gapapa kok.
Nanti juga bakal ada yang pura-pura pintar 

Terpujilah manusia yang jago bikin pendahuluan.
Sampai dengan baris ke empat, saya masih bingung mau tulis apa.
Di samping saya sekotak Susu Ultra Full Cream.
Diminum dengan harapan jadi pintar dan bisa kembali nulis.

Oktober 2017
Ada yang begitu mengimani pikirannya sendiri;
ada yang begitu malas menjelaskan;
dan ribuan menit demi menjadikannya satu.

Oktober terasa panjang.
Terlalu panjang sampai dinding kamar saya dipenuhi tempelan quotes.
Nyambungnya dimana?
Ya nggak nyambung sih.

Pada akhirnya ketika menyusun puzzle, kita akan menyadari; serupa adalah tanda bahaya.

Seperti Ibu yang nggak akan berhenti teriak sebelum anaknya ambil wudhu di waktu Subuh.
Atau wajah sedih Bapak menghadapi anaknya yang penuh alasan dan sulit patuh.
Barangkali Ibu nggak akan pernah berhenti teriak,
dan Bapak akan selalu berwajah sedih;
Pak, Bu, anakmu jagoan, dan keterlaluan.

Karena puzzle hanya disusun dari kepingan yang berbeda.
Dua manusia serupa dalam semua,
memaksa berbagi tempat,
dalam satu puzzle yang sama.

Beli Indomie dimana ya?
Di Puncak.
Yuk.

Bangun kesiangan?
Dua kepingan sama,
dibuat untuk mengisi puzzle yang berbeda.

Sudah mandi?

Kita seragam; bukan satu.

Seragam, Bukan Satu

by on October 31, 2017
Kalo udah bingung banget, pura-pura bodoh gapapa kok. Nanti juga bakal ada yang pura-pura pintar  ☺ Terpujilah manusia yang jago bik...
Seketika pindah tinggal ke suatu tempat -entah dimana- di Indonesia Timur.
Rumah cukup yang sangat biasa dengan cat kusen coklat muda.
Ada 2 kamar di dalam rumah; juga 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi di halaman belakang yang terpisah dari rumah utama.

Bangun Pagi di Kamar Halaman Belakang
Sesaat setelah buka pintu kamar: the whole world stops and stares for a while; saya punya sunrise paling luar biasa di halaman rumah!

Di depan saya adalah sepetak halaman belakang rumah yang dibiarkan kosong, bersambung tanah lapang selapang-lapangnya, yang ujungnya dipagari barisan bukit dengan tumpukan semau-mau.
Manis matahari muncul sedikit-sedikit dibalik barisannya.

Langit pagi itu digantungi awan ombak kekuningan dengan jumlah yang pas; berwarna dasar biru dengan adukan acak-acak warna orange. Ada seekor kambing lari-lari menuju tengah tanah lapang.

Sebelum menuju kamar mandi, saya foto sunrise puas-puas.

Ada jendela panjang di dalam kamar mandi yang menghadap ke tanah lapang.
Setengah jinjit dan setengah hidup; pemandangan dari jendela ini bagusnya keterlaluan!
Semburat orange matahari seperti kain-kain yang jatuh acak di lantai biru.
Matahari terasa sedekat nadi.
Anak kecil berdiri diujung jalan dekat bukit-bukit; juga kambing sendirian yang lari-lari kesenangan.

Pukul enam menuju tujuh.
Saya harus sekolah; SMA Negeri 1 Entahlah.
Berangkat harus segera, bukan karena macet tapi jalan kaki.

Jelang pukul 7.
SMA Negeri 1 Entahlah berdinding papan dengan satu lonceng karatan di bagian depan.
Ibu-Ibu duduk berpangku lutut di halaman.
Matanya bicara, "mau kemana Kakak ini?"

Sesaat sebelum pukul 7,
matahari benar-benar sedekat nadi.

Mimpi Tadi Malam

by on September 15, 2017
Seketika pindah tinggal ke suatu tempat -entah dimana- di Indonesia Timur. Rumah cukup yang sangat biasa dengan cat kusen coklat muda. ...

My Blog List