Seorang laki-laki berkemeja warna putih tulang bergaris tipis dengan jas coklat susu dan ber-jeans coklat muda . Berambut pirang, rambut nya keriting agak pajang, hidungnya mancung dan bola matanya coklat. Wajahnya tak terlalu panjang, tapi cocok untuk nya. Dia menarik sebuah koper berwarna hitam sambil memandang k belakang, memandang pada kekasihnya yang akan di tinggal pergi. Dia ak menatap terlalu tajam, tak memberikan lambaian tangan, hanya memandang dan mengisyaratkan rindu yang dalam.

Sang kekasih, dengan rambut pirang kecoklatan, rambutnya di kepang 2, bersepatu boots coklat, memakai semi gaun berwarna coklat muda dengan motif bunga-bunga. Bibirnya tak terlalu tebal, hidungnya mancung tak besar, bulu matanya tipis, dan bola matanya coklat muda. Dia berdiri mematung sambil memegang setangkai bunga matahari, pemberian dari kekasihnya yang akan pergi. Di pipinya, tak putus-putus aliran air mata. Matanya kuyu memandangi kekasihnya yang berjalan menjauh. Satu hal yang memenuhi pikirannya, ”Apakah dia akan kembali dan bersama ku lagi?”

Backsound: Leaving on a jet plane

Mengkhayal Lebay

by on August 11, 2009
Seorang laki-laki berkemeja warna putih tulang bergaris tipis dengan jas coklat susu dan ber-jeans coklat muda . Berambut pirang, rambut nya...
Kita sampai pada suatu titik kedewasaan, dimana aku, kamu, dia, mereka, dan kita adalah ayat-ayat Tuhan yang sudah matang dalam pemikiran.
Perbedaan pandangan dan pemikiran bukan hal luar biasa yang harus disikapi dengan ego dan emosi, tapi dengan toleransi dan jutaan kompromi. Adakalanya hal ini tidak tersikapi dengan baik. Ada typical orang yang terlalu tidak peduli dengan orang-orang lain disekitarnya. Merasa bahwa sudah berjalan di jalan yang benar dan tidak mengabaikan sekelilingnya.
Sebenarnya dewasa itu apa?
Begitu banyak definisi yang saya dapat, tapi sama sekali tidak mendefinisikan arti dewasa dalam masalah saya.
Saya mengerti, perbedaan tingkat emosi dan peduli seseorang berbeda-beda. Saya mengerti bahwa setiap pendapat ada benarnya. Saya juga mengerti bahwa tiap orang diciptakan dengan jalan pemikiran masing-masing. Tapi, apakah tidak ada suatu titik temu yang akhirnya menjadi muara dari semua jalan pikir setiap orang?
Saya mencari itu.
Saya mencoba keluar dari jalan pemikiran saya untuk menemukan ’muara’ pikir orang lain tersebut. Tapi dimana? Apakah benar melulu tentang kedewasaan? Bukankah banyak hal lain yang semestinya dilibatkan atau malah jadi tolak ukur kunci dalam pengambilan suatu kesimpulan?

”Ajari aku tuk bisa.. Menjadi yang engkau minta..”
Lagu disalah satu iklan provider.
Saya diam. Apa mungkin saya harus berpikir dan menjadi seperti orang lain itu untuk bisa mengerti tentang orang itu?
Pemikiran yang salah sebenarnya. Saya tau, kita harus jadi diri sendiri, dengan segala asumsi dan spekulasi sendiri, dengan kita apa adanya.
Tapi bagaimana jika tak sedikit pun kita temukan jalan untuk menuju ’muara pikir’ tersebut? Apakah harus membuat ’muara’ baru?

Mungkin cara pandang saya tidak semuanya benar, karena saya belum bisa mengurung ego yang mengamuk dalam diri saya. Tapi saya benar-benar tidak kuasa mendengar ratapan jauh di relung hati, saya mencoba teriak dalam tulisan ini!

Ajari Aku

by on August 08, 2009
Kita sampai pada suatu titik kedewasaan, dimana aku, kamu, dia, mereka, dan kita adalah ayat-ayat Tuhan yang sudah matang dalam pemikiran. ...

My Blog List